“Jangan Buang Sampah Sembarangan!”
“Buanglah Sampah Pada Tempatnya!”
“Jagalah kebersihan!”
“Kebersihan Sebagian dari Iman!”
Slogan-slogan tersebut sering kita temui dan sudah menjadi hal yang lumrah terpampang di banyak sekali lokasi, terutama di pusat-pusat keramaian menyerupai di jalan umum, taman, tempat wisata, pasar, sekolah, kantor-kantor pemerintahan sampai tempat-tempat ibadah.
Hal tersebut menyiratkan, betapa kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta membuang sampah pada tempatnya.
Lihatlah sesaat sesudah terjadi kemeriahan program di suatu tempat. Sampah bertebaran di mana-mana. Terbanyak berupa sampah botol minuman dalam kemasan, disusul bungkus kudapan dan kantong-kantong kresek. Padahal biasanya, Panitia program tak pernah berhenti mengingatkan akan pentingnya menjaga kebersihan, serta menempatkan banyak tempat pembuangan sampah di seputaran lokasi kegiatan, berupa tong sampah besar atau kantong sampah hitam berukuran besar.
Namun, jikalau kebiasaan membuang sampah pada tempatnya belum menjadi kebiasaan sehari-hari yang tertanam semenjak kecil, sanggup dipastikan walaupun tempat sampah telah tersedia, sampah tetap akan bertaburan di mana-mana.
#Baca juga keunggulan kantong sampah plastik.
Ada sebuah fenomena menarik kala terjadi demonstrasi besar-besaran di Jakarta beberapa ketika yang lalu. Tanpa perlu komando berlebih, beberapa komunitas yang ikut berdemo sigap membereskan sampah yang ditinggalkan oleh pendemo lainnya. Sebuah gerakan yang patut diapresiasi dan ditiru oleh siapapun.
Mereka tiba lengkap dengan alat tempur berupa sapu lidi, pengki serta banyak sekali ukuran kantong sampah, terutama kantong sampah hitam yang berukuran besar. Demo usai, sampahpun tak terlihat sama sekali. Gerakan mereka cepat dan terorganisasi rapi, mengalahkan gerakan pasukan oranye yang memang diterjunkan sebagai petugas kebersihan resmi dari pemerintah daerah. Seandainya setiap pendemo melaksanakan tindakan serupa, betapa akan dihargai upaya mereka.
Kebiasaan peduli terhadap sampah memang harus ditanamkan semenjak dini. Dimulai dari dalam rumah, oleh diri sendiri dan diikuti oleh seluruh anggota keluarga yang saling mengingatkan jikalau salah seorang di antara mereka terlihat membuang sampah sembarangan, walaupun hanya berbentuk selembar kertas tissue, bungkus permen atau bahkan hanya sebatang puntung rokok yang terlihat remeh dan kecil.
Namun, jikalau sampah-sampah kecil dan remeh tersebut dihasilkan oleh ratusan orang, akan menumpuk dan terlihat menggunung juga, bukan? Apalagi jikalau yang dibuang yakni gelas atau botol minuman kemasan. Lebih baik kedua barang tersebut dikumpulkan dan diberikan ke pemulung untuk dijual kembali. Selain lingkungan menjadi bersih, secara tidak eksklusif juga beramal.
Pernah melihat lautan koran usai sholat ied dilaksanakan? Ini juga kebiasaan yang harus dibenahi. Terlihat sepele dan mungkin pikiran beberapa orang “nanti juga akan dikumpulkan oleh pemulung”. Namun, pemandangan sesaat tersebut tentu cukup menciptakan gerah. Apalagi bagi panitia tempat pelaksanaan sholat ied, hal ini menambah panjang daftar pekerjaan bagi mereka alasannya harus segera membereskan serta merapikan sampah yang ditinggalkan ratusan jamaah. Memang, tumpukan koran tersebut sanggup dijual kembali. Namun, tak akan imbang dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan.
Seandainya masing-masing orang yang membawa koran sebagai ganjal sajadahnya itu melipat serta menumpuk koran bekasnya di suatu tempat, tentu akan memudahkan panitia membereskan lokasi pelaksanaan sholat ied. Bagaimana jikalau usai pelaksanaan sholat ied ternyata hujan turun dengan deras, sementara lautan koran belum usai dibenahi? Terbayang, berapa tinggi bubur koran akan yang terbentuk.
#Baca juga fungsi kantong sampah medis menurut warna.
Sampah! Hal yang terlihat kecil dan sepele, namun akan selalu dihasilkan oleh setiap individu, betapapun ia berusaha mengurangi jumlahnya. Gerakan Go Green yang dilakukan oleh beberapa komunitas ketika ini biar segera menular dan menggelinding, sampai menjadi kesadaran bagi seluruh masyarakat dari banyak sekali lapisan sosial dan kelompok usia.
Info harga terupdate silahkan klik DISINI.
“Buanglah Sampah Pada Tempatnya!”
“Jagalah kebersihan!”
“Kebersihan Sebagian dari Iman!”
Slogan-slogan tersebut sering kita temui dan sudah menjadi hal yang lumrah terpampang di banyak sekali lokasi, terutama di pusat-pusat keramaian menyerupai di jalan umum, taman, tempat wisata, pasar, sekolah, kantor-kantor pemerintahan sampai tempat-tempat ibadah.
Hal tersebut menyiratkan, betapa kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta membuang sampah pada tempatnya.
Lihatlah sesaat sesudah terjadi kemeriahan program di suatu tempat. Sampah bertebaran di mana-mana. Terbanyak berupa sampah botol minuman dalam kemasan, disusul bungkus kudapan dan kantong-kantong kresek. Padahal biasanya, Panitia program tak pernah berhenti mengingatkan akan pentingnya menjaga kebersihan, serta menempatkan banyak tempat pembuangan sampah di seputaran lokasi kegiatan, berupa tong sampah besar atau kantong sampah hitam berukuran besar.
Namun, jikalau kebiasaan membuang sampah pada tempatnya belum menjadi kebiasaan sehari-hari yang tertanam semenjak kecil, sanggup dipastikan walaupun tempat sampah telah tersedia, sampah tetap akan bertaburan di mana-mana.
#Baca juga keunggulan kantong sampah plastik.
Ada sebuah fenomena menarik kala terjadi demonstrasi besar-besaran di Jakarta beberapa ketika yang lalu. Tanpa perlu komando berlebih, beberapa komunitas yang ikut berdemo sigap membereskan sampah yang ditinggalkan oleh pendemo lainnya. Sebuah gerakan yang patut diapresiasi dan ditiru oleh siapapun.
Mereka tiba lengkap dengan alat tempur berupa sapu lidi, pengki serta banyak sekali ukuran kantong sampah, terutama kantong sampah hitam yang berukuran besar. Demo usai, sampahpun tak terlihat sama sekali. Gerakan mereka cepat dan terorganisasi rapi, mengalahkan gerakan pasukan oranye yang memang diterjunkan sebagai petugas kebersihan resmi dari pemerintah daerah. Seandainya setiap pendemo melaksanakan tindakan serupa, betapa akan dihargai upaya mereka.
Kebiasaan peduli terhadap sampah memang harus ditanamkan semenjak dini. Dimulai dari dalam rumah, oleh diri sendiri dan diikuti oleh seluruh anggota keluarga yang saling mengingatkan jikalau salah seorang di antara mereka terlihat membuang sampah sembarangan, walaupun hanya berbentuk selembar kertas tissue, bungkus permen atau bahkan hanya sebatang puntung rokok yang terlihat remeh dan kecil.
Namun, jikalau sampah-sampah kecil dan remeh tersebut dihasilkan oleh ratusan orang, akan menumpuk dan terlihat menggunung juga, bukan? Apalagi jikalau yang dibuang yakni gelas atau botol minuman kemasan. Lebih baik kedua barang tersebut dikumpulkan dan diberikan ke pemulung untuk dijual kembali. Selain lingkungan menjadi bersih, secara tidak eksklusif juga beramal.
Pernah melihat lautan koran usai sholat ied dilaksanakan? Ini juga kebiasaan yang harus dibenahi. Terlihat sepele dan mungkin pikiran beberapa orang “nanti juga akan dikumpulkan oleh pemulung”. Namun, pemandangan sesaat tersebut tentu cukup menciptakan gerah. Apalagi bagi panitia tempat pelaksanaan sholat ied, hal ini menambah panjang daftar pekerjaan bagi mereka alasannya harus segera membereskan serta merapikan sampah yang ditinggalkan ratusan jamaah. Memang, tumpukan koran tersebut sanggup dijual kembali. Namun, tak akan imbang dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan.
Seandainya masing-masing orang yang membawa koran sebagai ganjal sajadahnya itu melipat serta menumpuk koran bekasnya di suatu tempat, tentu akan memudahkan panitia membereskan lokasi pelaksanaan sholat ied. Bagaimana jikalau usai pelaksanaan sholat ied ternyata hujan turun dengan deras, sementara lautan koran belum usai dibenahi? Terbayang, berapa tinggi bubur koran akan yang terbentuk.
#Baca juga fungsi kantong sampah medis menurut warna.
Sampah! Hal yang terlihat kecil dan sepele, namun akan selalu dihasilkan oleh setiap individu, betapapun ia berusaha mengurangi jumlahnya. Gerakan Go Green yang dilakukan oleh beberapa komunitas ketika ini biar segera menular dan menggelinding, sampai menjadi kesadaran bagi seluruh masyarakat dari banyak sekali lapisan sosial dan kelompok usia.
Info harga terupdate silahkan klik DISINI.

Komentar
Posting Komentar